21
Apr

Bila Al Qur’an bisa bicara !

Waktu engkau masih kanak-kanak, kau laksana kawan sejatiku.  Dengan  wudu’ aku kau sentuh dalam keadaan suci    Aku kau pegang, kau junjung dan kau pelajari.  Aku engkau baca dengan suara lirih ataupun keras setiap hari
Setelah usai engkaupun selalu menciumku mesra
Sekarang engkau telah dewasa…
Nampaknya kau sudah tak berminat lagi padaku…    Apakah aku bacaan usang yang tinggal sejarah…    Menurutmu barangkali aku bacaan yang tidak menambah pengetahuanmu. Atau menurutmu aku hanya untuk anak kecil yang belajar mengaji  saja?
Sekarang aku engkau simpan rapi sekali hingga kadang engkau lupa  dimana
menyimpannya.  Aku sudah engkau anggap hanya sebagai perhiasan rumahmu   Kadang kala aku dijadikan mas kawin agar engkau dianggap bertaqwa  Atau aku kau buat penangkal untuk menakuti hantu dan syetan
Kini aku lebih banyak tersingkir, dibiarkan dalam kesendirian dalam  kesepian   Di atas lemari, di dalam laci, aku engkau pendamkan.
Dulu…pagi-pagi…surah-surah yang ada padaku engkau baca beberapa   halaman   Sore harinya aku kau baca beramai-ramai bersama temanmu di surau…..   Sekarang… pagi-pagi sambil minum kopi…engkau baca Koran pagi atau  nonton berita TV    Waktu senggang..engkau sempatkan membaca buku karangan manusia   Sedangkan aku yang berisi ayat-ayat yang datang dari Allah Yang Maha  Perkasa.    Engkau campakkan, engkau abaikan dan engkau lupakan…   Waktu berangkat kerjapun kadang engkau lupa baca pembuka surah2ku    (Basmalah)    Diperjalanan engkau lebih asyik menikmati musik duniawi  Tidak ada kaset yang berisi ayat Alloh yang terdapat padaku di laci    mobilmu    Sepanjang perjalanan radiomu selalu tertuju ke stasiun radio favoritmu   Aku tahu kalau itu bukan Stasiun Radio yang senantiasa  melantunkan  ayatku  Di meja kerjamu tidak ada aku untuk kau baca sebelum kau mulai kerja   Di Komputermu pun kau putar musik favoritmu   Jarang sekali engkau putar ayat-ayatku .   E-mail temanmu yang ada ayat-ayatkupun kadang kau abaikan   Engkau terlalu sibuk dengan urusan duniamu
Benarlah dugaanku bahwa engkau kini sudah benar-benar melupakanku. Bila malam tiba engkau tahan nongkrong berjam-jam di depan TV   Menonton pertandingan Liga Italia , musik atau Film dan Sinetron laga.  Di depan  komputer berjam-jam engkau betah duduk  Hanya sekedar membaca berita murahan dan gambar sampah    Waktupun cepat berlalu…aku menjadi semakin kusam dalam lemari.  Mengumpul debu dilapisi abu dan mungkin dimakan kutu  Seingatku hanya awal Ramadhan engkau membacaku kembali
Itupun hanya beberapa lembar dariku   Dengan suara dan lafadz yang tidak semerdu dulu   Engkaupun kini terbata-bata dan kurang lancar lagi setiap bacaku.
Apakah Koran, TV, radio , komputer, dapat memberimu pertolongan ?    Bila engkau di kubur sendirian menunggu sampai kiamat tiba    Engkau akan  diperiksa oleh para malaikat suruhanNya   Hanya dengan ayat-ayat Allah yang  ada padaku engkau dapat selamat  melaluinya.
Sekarang engkau begitu enteng membuang waktumu…    Setiap saat berlalu…kuranglah jatah umurmu…    Dan akhirnya  kubur senantiasa menunggu kedatanganmu..   Engkau bisa kembali kepada Tuhanmu sewaktu-waktu. Apabila malaikat maut mengetuk pintu rumahmu.
Bila aku engkau baca selalu dan engkau hayati…    Di kuburmu nanti….   Aku akan datang sebagai pemuda gagah nan tampan   Yang akan membantu engkau membela diri.  Bukan koran yang engkau baca yang akan membantumu.  Dari perjalanan di alam akhirat  Tapi Akulah “Qur’an” kitab sucimu   Yang senantiasa setia menemani dan melindungimu.  Peganglah aku lagi . .. bacalah kembali aku setiap hari  Karena ayat-ayat yang ada padaku adalah ayat suci .  Yang berasal dari Alloh, Tuhan Yang Maha Mengetahui
Yang disampaikan oleh Jibril kepada Muhammad Rasulullah.   Keluarkanlah segera aku dari lemari atau lacimu…   Jangan lupa bawa kaset yang ada ayatku dalam laci mobilmu   Letakkan aku selalu di depan meja kerjamu . Agar  engkau senantiasa mengingat Tuhanmu
Sentuhilah aku kembali…
Baca dan pelajari lagi aku….
Setiap datangnya pagi dan sore hari
Seperti dulu….dulu sekali…
Waktu engkau masih kecil , lugu dan polos…
Di surau kecil kampungmu yang damai
Jangan aku engkau biarkan sendiri….
Dalam bisu dan sepi….
Mahabenar Allah, yang Mahaperkasa lagi
Mahabijaksana. Semoga   bermanfaat

21
Apr

Cinta & Kawan

Satu hari CINTA & KAWAN berjalan dalam kampung…
Tiba-tiba CINTA terjatuh dalam telaga…
Kenapa??
Kerena CINTA itu buta…
Lalu KAWAN pun ikut terjun dalam telaga…
Kenapa??
Kerena… KAWAN akan buat apa saja demi CINTA !!
Di dalam telaga CINTA hilang…
Kenapa??
Kerena… CINTA itu halus, mudah hilang kalau tak dijaga, sukar dicari apa
lagi dalam telaga yang gelap…
Sedangkan KAWAN masih lagi tercari-cari dimana CINTA & terus menunggu..
Kenapa??
Kerana… KAWAN itu sejati & akan kekal sebagai KAWAN yang setia…
kan ??
so, hargai lah KAWAN kita selagi kita terasa dia BERARTI….

Walau kita punya couple, teman tetap yang paling setia.
Walau kita punya harta banyak, teman tetap yang paling berharga.

16
Mar

Aku datang nenekku sayang

Saat mendapat kabar lewat telpon adik tentang keadaan nenek dijogja, semakin kurus dan sakit2an. Saat itu pula pikiranku terbayang wajahnya yang tua. Dia adalah seorang yang berarti dalam hidupku, dan kemudian aku putuskan untuk menengok beliau. Aku ingin melihat dan memeluknya sebelum suatu saat beliau dipanggil yang kuasa.

Seperti biasa setiap hari sabtu minggu adalah hari libur perusahaan dan kuputuskan berangkat ke jogja sepulang dari kerja naik kereta waktu itu tanggal 27 feb’09. Tekat sudah bulat walau badan ini masih terasa kurang fit. Naik kereta progo, bosan menunggu. akupun mencoba menghubungi beberapa teman untuk mengisi kebosanan selama menunggu kereta.

Jadwal karet, yah seperti menjadi kebiasaan bangsa kita. Kedatangan keretapun mundur kira-kira 1 jam dari jadwal yang tertera pada tiket. Akhirnya kereta berangkat malam sabtu jam 22.30.

DJOGJA aku datang, hehehe… entah knapa rasanya damai banget klo tinggal di jogja. Seperti biasa setiap aku pul ke jogja sang adik selalu menjemputnya. Tak mau kehilangan waktu aku segara bergegas ke target yang utama yaitu menengok keadaan nenek.

Saat itu dia berbaring tiduran. Beliau agak kaget tak mengira kalo aku benar-benar menengoknya setelah beberapa hari sebelumnya aku telpon. Rasa bahagia terpancar diraut wajahnya, lalu aku tanyakan keadaan beliau. Syukur Alhamdulillah keadaan beliau masih sehat walau memang terlihat semakin kurus dan kering.

Satu hal yang selalu ditanyakan beliau kepadaku saat aku mengunjunginya. “ Sudah punya pacar belum le..” dengan logat jawa dan sedikit tertawa memperlihatkan giginya yang sudah tak ada, dan akupun menjawab dengan tertawa juga “ hehehe… belum nek” ,

“Dah segera cari pacar kamukan sudah kerja biar aku bisa melihat pernikahanmu cucuku “ wakakakak kembali ku tertawa dengan malu malu ku katakan “iya nek doakan saja”.

“rencana saya pengen lanjutin sekolah dulu, smoga nenek senantiasa diberikan kesehatan hingga bisa liat cucumu menikah” hehehe.. inilah yang selalu terdengar saat mengunjungi beliau. Ku manfaatkan libur 2 hari itu bersama beliau memberikan semangat hidup beliau. Kadang aku berpikir suatu saat nanti jika Allah memberikan kita umur panjang pasti akan tua renta seperti itu dan terbatas tuk melakukan aktivitas. Waktu malam telah datang setelah kulihat beliau sudah terlelap istirahat, aku keluar rumah dan sejenak ngobrol dengan teman2 setelah beberapa bulan tidak berjumpa.

Sekali dayung dua pulau terlampui. Alhamdulillah kedua nenek masih diberikan kesehatan dan kali ini aku bisa mengunjungi keduanya sekali jalan.

Nenekku sayang ku doakan agar engkau selalu diberikan kesehatan hingga engkau bisa melihat pernikahan cucumu ini suatu saat nanti.

14
Mar

Membangun Cinta Suci

Sahabat…
Kita semua pernah merasakan cinta
Mungkin ada yang baru memulainya
Mungkin ada yang sedang menjalaninya
Atau mungkin juga ada yang sedang berusaha tuk mengakhirinya

Sesungguhnya cinta itu adalah sebuah rasa
Sekaligus anugerah terindah dari Yang Maha Indah
Untuk dirasakan dan dilalui sesuai kehendak-Nya
Cinta adalah sebuah rasa yang tak pernah diundang
Juga sebuah rasa yang sulit untuk dibuang
Cinta itu hakikatnya milik kita
…untuk menikmati dan menjalani sesuai peruntukkannya
Dan cinta tidak mengenal batas usia
Ada yang muda senang pada yang lebih tua
Ada yang tua lebih senang pada yang lebih muda
Ternyata usia bukanlah sekat mutlak yang tak dapat didobrak

Cinta tertanam di dalam hati
tapi seperti apa wujud cinta yang sesungguhnya ?
Apakah berupa segerombolan partikel berwujud ?
ataukah kosa kata nisbi yang penuh relativitas ?
Karena seringkali cinta ditafsirkan sesuai selera
Padahal cinta adalah bentuk nyata yang tak berwujud

Cinta tak dapat dibentuk
…juga tak bisa dimusnahkan
Berarti cinta semacam energi yang hakiki
…bahkan lebih hakiki dari energi
…karena cinta bisa dirasakan tapi tak bisa dirubah

Cinta yang tak kunjung datang bukan untuk ditakuti
Cinta yang sedang dijalani bukan untuk dihindari
Dan cinta yang telah berlalu bukan untuk disesali
…tapi cinta yang kita miliki adalah sebuah anugerah Illahi
…yang harus disyukuri
…yang harus dijalani
…dan dijaga agar tetap suci

Sahabat…
Andaikan kita diberi kesempatan untuk kembali ke masa lalu,
…akankah kita memulai dengan catatan hidup yang baru
…menata kembali bongkahan cinta yang pernah retak
…lalu dipelihara dan dijaga
Ataukah…
Kita ingin memulai perjalanan dengan kisah yang baru
…mungkin memilih dari sekian teman yang kita kenal
…seseorang yang kita anggap paling baik saat ini
…yang dirasakan begitu memahami dan mengerti
…dan ketika kita bertemu bahwa ia tidak sesuai dengan harapan…
…lalu kitapun bermimpi kembali, …andaikan bisa kembali….
Lalu sampai kapan…???
Perjalanan cinta bukanlah estafeta penuh pengandaian
Sebab perjalanan cinta adalah sebuah realita yang harus kita terima
Memang banyak titik perjuangan yang harus dilakukan
Tapi itu sangat normatif sebagaimana seharusnya
Jadi apa yang harus kita lakukan saat ini, adalah…
Carilah cinta suci bagi yang belum menemukannya
…ikuti kata hati dan pedomani kitab suci
…agar kita tidak terjatuh pada makna cinta yang salah
Peliharalah cinta bagi yang saat ini sedang memilikinya
…berilah perhatian yang memadai
…rawatlah dengan sentuhan tangan yang ikhlas
Sukurilah cinta yang sirna bagi yang saat ini telah kehilangannya
…sebab boleh jadi cinta itu tidak memberi kebahagiaan yang hakiki
…dan boleh jadi itu adalah cinta semu,
…yang kan menjerumuskan kita pada jurang kesedihan yang mendalam

Mintalah restu orang tua atas setiap nikmat cinta yang kita rasakan
Jagalah setiap perkataan dan perbuatan…,
Untuk menjaga agar tak ada hati yang terlukakan
Lakukan penuh kejujuran…dan ungkapkan apa yang kau rasakan
…agar ia pun memamahi dan mengerti,
…untuk membangun cinta suci yang hakiki
…yang diridloi oleh Illahi Rabbi

21
Jan

Aku sebagai Sahabatmu

Sahabat…
Peta jalan setiap orang memang berbeda
…tetapi kemana kita akan melangkah…,itu adalah pilihan kita
Dimana pilihan ini sering diwarnai oleh gelapnya amarah dan merahnya nafsu
Baik yang terasa maupun yang tak terasa
Apalagi jika beranggapan sudah terbiasa..,maka akan menjadi tabi’at
…,maka pilihlah warna kehidupan yang baik
Dari sekarang…,ya dari sekarang ini juga
Dan jangan pernah ditunda hinga esok atau lusa nanti

Belajarlah melupakan masa lalu
Dan mencoba merintis hari ini dengan sulaman indah yang kita miliki
Jangan pernah hakimi diri dengan stigma negatif
…yang akan meruntuhnya tiang - tiang psikologis yang sudah kita bangun
Adapun soal kegagalan yang pernah kita lalui
…soal keterpurukan diri yang pernah kita lewati
…bahkan soal noktah dan lumpur dosa yang pernah kita jalani
Itu adalah soal masa yang telah terjadi
Dan kita tidak bisa kembali ke masa lalu
…kita ada saat ini…,
…untuk berfikir dan bertindak untuk hari ini
…dan berupaya untuk menggapai masa depan yang lebih baik

Sahabat…
Marilah kita kumpulkan kembali
Bongkahan sisa energi yang masih kita miliki
Kumpulkan prasangka baik dari jiwa yang tercecer dimana - mana
Bersihkanlah rasa lelah…kecewa dan putus asa yang berserakan
Kita tegakkan tiang - tiang penyangga hidup dan agama
Semakin mendekatkan diri pada Dia Tuhan Yang serba Maha
Dan tidak lupa berdo’a…berdo’a…dan berdo’a lah…
Kita yakin…kita pasti bisa…
…tuk keluar dari kobangan lumpur yang lama mengotori jiwa kita
…kita berendam di danau taubat
…kita tafakur di atas sajadah ikhlas
…kita bersihkan diri di bawah siraman cahaya-Nya
…kita terduduk berlinang air mata di setiap munajat malam

Tanamkan dalam diri kita
Nilai - nilai optimis dan positip tentang diri kita
Jangan justifikasi diri ini dengan stigma - stigma negatif
…yang pada akhirnya akan membuat diri ini terpuruk semakin dalam
Kita adalah manusia baik…
…yang akan berusaha untuk baik…dan terus lebih baik
…memang tidak mudah,…dan pasti banyak rintangan yang siap menghadang
Tapi kita bukanlah manusia lembek yang selalu mengembek…
…hanya mampu menangis ketika berhadapan dengan masalah
Kita adalah anak bangsa yang tegar…
…yang selalu berjalan dengan tegap menatap masa depan
…dan juga tetap rendah hati dan hormat sama orang tua
…juga selalu bersyukur atas setiap nikmat dari-Nya dengan hamdallah
…yang selalu mensucikan jiwa dengan istighfar dan tasbih
…dan mengagungkan asma-Nya dengan takbir

Sahabat…
Jangan pernah lagi merasa menghadapi masalah sendirian
…karena Aku sebagai Sahabatmu…
Ingin selalu berusaha memberi tongkat penyangga yang kau perlukan
Terus berusa dengan baik…
Manfaatkan waktu seoptimal mungkin…
Dan dekatkan diri pada Dia Yang Maha Pengasih

19
Nov

Kapan Cinta pantas dikatakan …???

Oleh : Dede Farhan Aulawi

Hari itu, Jum’at tanggal…Juli 1989. Saya berangkat dari Tasikmalaya ke
Bandung untuk mencari tempat kost sehubungan dengan telah dekatnya masa
awal perkuliahan. Kebetulan sehari sebelumnya, alhamdulillah saya sudah
melihat pengumuman kelulusan untuk kuliah di salah satu PTN di Bandung.
Rasa syukur dan semangat selalu menyertaiku. Sebagai alumnus SMAN 1
Tasikmalaya, Allah SWT telah memberiku kesempatan untuk menimba pendidikan
lebih lanjut di kota Bandung.

Setibanya di terminal bis Cicaheum, saya naik angkot dan berhenti di
sekitar Gasibu - Gedung Sate untuk mencari tempat kost-an, karena konon di
sana mudah sekali untuk mendapatkan tempat kost-an. Setelah berjalan
menyisir gang demi gang tuk mencari tempat kost yang murah dan terjangkau,
akhirnya kutemukan salah satu tempat kost.

Tempat kost tersebut merupakan sebuah rumah yang memiliki 3 kamar. Setiap
kamar rata - rata diisi oleh 2 atau 3 orang. Tentu kurang begitu nyaman
karena merasa tidak ada privacy, tapi saat itu belum saatnya bicara
privacy karena yang penting bisa mendapat tempat berteduh yang murah.

Akhirnya saya sekamar bertiga. Mulanya merasa sangat canggung karena
mereka adalah mahasiswa senior yang sebentar lagi lulus. Sementara saya
adalah mahasiswa baru yang baru kemarin sore melepaskan seragam putih abu.
Tentu banyak suka duka yang telah dilewati pada masa ini. Tapi ada satu
hal yang cukup menarik untuk saya ceritakan.

Salah seorang kakak kelasku bercerita bahwa hidup harus memiliki prinsip,
cita - cita, dan kesungguhan berjuang dan berkorban. Awalnya saya kurang
memahami maksud kalimat tersebut, karena kelihatan terlalu filosofis dan
teoritis.
Suatu malam dia (sebut saja namanya “X”) berkata :

X : ” De, saya menaksir temen seangkatan yang sangat cantik sekali (sebut
saja namanya “Y”). Orangnya sangat cantik dan pintar. Dan tolong kamu
menjadi saksi, aku ingin berjuang dan memiliki cintanya”.
De : “Iya mas…,saya turut mendukung saja semoga cita - cita Mas
terkabul. Tapi kalau boleh tahu, saya ingin lihat fotonya donk ?”
X : Boleh..,neh ada. Kebetulan aku pernah mencabutnya dari majalah dinding
saat berlangsung ospek masa lalu”.

Begitu lihat fotonya, aku bergumam wah ini memang cewek yang sangat cantik
sekali sekelas artis tercantik era 89-90 an. Tapi…,masa iya sech cewek
secantik dia, akan mau memberikan cintanya sama senior saya ini. Maaf,
dalam hati waktu itu saya berfikir apakan senior saya ini ngak ngukur
diri, siapa dia, wajahnya bagaimana, kondisi hidupnya pas - pasan, dan
IPK-nya pun tepat di garis kemiskinan, alias 2,75…he he he.

Si X mungkin bisa menangkap sinyal bahasa tubuh saya ketika saya
mengernyitkan dahi.
X : “De..,hidup itu adalah perjuangan untuk menggapai cita - cita. Tidak
ada yang tak mungkin dalam hidup ini, selama kita mau memperjuangkannya
sungguh - sungguh. Allah itu Maha Tahu. Tahu persis apa yang kita inginkan
dan kita perjuangkan “.

Dari hari ke hari dia sering cerita kepada saya. Ya mungkin semacam
progress report-lah he he he…, lalu setelah setahun, saya pindah kost-an
ke tempat yang mendekati kampus, dan cukup lama tak mendengar kabarnya
lagi.
2 tahun kemudian saya berjumpa kembali di salah satu pusat perbelanjaan di
kota Bandung dengan X dan istrinya. Dan ternyata cita - cita dia berhasil
serta hidup bahagia. Esok harinya dia janjian denganku untuk ketemu dan
berbagi cerita.

Bukan di sudut cafe kami bicara, tapi di suatu pojok di tukang pecel lele
yang menjadi langganan di jalan Dipati Ukur.
X : De..,jangan mengira saya bisa menikahinya dengan gampang. Semua
mengikuti alur perjalanan yang sangat berliku, penuh kerikil tajam, dan
curam mencekam.
Setiap dia datang ke kampus yang selalu diantar sama supir pribadinya,
maka saat ia bukakan pintu, saya selalu memayunginya. Baik hari lagi panas
ataupun hujan. Dia sebenarnya sering menolak dan merasa risih dengan sikap
saya ini. Dia merasa sangat malu, apalagi beberapa temen kampus yang
kebetulan melihatnya, sering tertawa terbahak - bahak dan
menyorakinya….Sebagian ada yang mencibirku sebagai laki - laki yang tak
memiliki cermin. Cermin untuk melihat siapa dirinya ?
Cibiran ini yang sering memacuku menjadi pendorong agar saya tidak pernah
putus asa. Bahkan cewek ini pernah mencibirku juga, sebagai laki - laki
yang tak tahu malu, dan lebih ekstrim menggapku sebagai lelaki gila.
Sebenarnya aku ingin berkata,” sesungguhnya aku juga malu, tapi aku hanya
ingin kau tahu, bahwa aku sangat menyayangi dan mencintaimu. Tak
kuperkenankan ada seberkas pun cahaya mentari yang menyengat kulitmu, dan
ku tak tega ada setetes ujan yang membasahi badanmu. Aku kepanasan dan
kehujanan tak mengapa, asal aku dapat pastikan bahwa kau tak kepanasan dan
tak kehujanan.

De : “Wah…,cerita yang sangat romantis sekali Mas. Terus…”
X  : “Suatu hari saya tanya - tanya alamat dia, karena saya ingin
berkunjung ke rumahnya. Dan akhirnya dari data kampus kuperoleh alamat dia
di jalan Cipaganti. Wah…,sempet kecut juga, karena siapa yang gak tau
daerah Cipaganti. Itu kan daerahnya warga kelas I di Bandung. Dan setelah
naik turun angkot, akhirnya kutemukan rumahnya. Saat bel rumah kupijit,
yang keluar adalah pembantunya.
Pembantu : Maaf Mas, Mas ini siapa dan mau ke siapa serta ada keperluan apa ?
X : Saya temen kuliahnya “Y”, dan saya ingin ketemu dengannya, …ya
sekedar ngobrol - ngobrol aja”.
Pembantu : “Sebentar ya Mas, saya sampaikan dulu sama Non Y…”.
Y : “Mau ngapain kamu kesini ? Tak puas ya kamu permalukan saya di kampus
atas sikap tolol mu itu. Sebenarnya mau kamu apa seh ? Asal kamu tahu
bahwa saya sudah memiliki tunangan yang sangat kaya, tampan dan pintar.
Tidak miskin dan bodoh kaya kamu. Jadi sesekali bercermin donk….”

X tentunduk diam…,pedih hati-nya menerima berondongan pertanyaan seperti
itu, karena dia juga manusia biasa. Sebenarnya hati-nya ingin menjerit tuk
meneriakan “Aku sangat menyintaimu…”, nuraniku ingin mengunmandangkan,
“…sungguh aku sangat menyayangimu…”. Biar seisi dunia tahu, bahwa
memang benar - benar sangat menyayangi dan mencintainya. Tapi apalah
daya-nya, dia tak memiliki keberanian untuk itu. Dan akhirnya diapun
dihardiknya untuk pulang. Sangat jelas saat itu bagaimana telunjuk Y
mengusir si X ini….

Sesampai di rumah X bercermin, apa memang dirinya sangat jelek sehingga
sangat tidak layak tuk menyayangi Y. Ditatap raut wajahnya dengan pesimis,
tapi dia beruntung karena gelora cintanya turus membakar jiwa memberi
kehangatan dan sekaligus semangat untuk terus berjuang…., bahwa tidak
ada kebahagian yang diperoleh dengan mudah dan murah. Mungkin ada temen
mahasiswanya yang beranggapan bahwa dia mendekati Y karena hartanya,
padahal dia benar - benar tulus tuk persembahkan segumpal hatinya dengan
sebongkah kesetiaan dan niat tuk menikahinya.

Sekian lama X merenung…dan waktu terus berjalan…
Cukup lama X tidak bertemu Y, sampai suatu waktu X menerima kabar bahwa Y
memang sudah lama gak kuliah karena menderita penyakit yang sulit
disembuhkan. Meskipun berbagai alternatif medis telah dilakukan ke
mancanegara, dan akhirnya semua para ahli kesehatan angkat tangan. Semua
keluarga telah pasrah. Pihak rumah sakit hanya mengatakan bahwa
probabilitas sembuh bisa meningkat jika ada seseorang yang rela
menyumbangkan salah satu organ tubuhnya untuk Y. Tentu saja anggota
keluarga yang lain bingung, karena bagi mereka kalau diminta sumbangan 50
- 100 juta gak masalah, tapi kalau harus menyumbangkan organ tubuh tunggu
dulu, mengingat resiko kematianpun akan menghantui bagi si penyumbangnya.

Di tengah kemelut duka yang menghiasi salah satu istana di sudut jalan
Cipaganti itu, tiba - tiba dering telpon berbunyi. Dering itu datang dari
suatu rumah sakit, yang mengatakan bahwa rumah sakit telah memperoleh
organ tubuh yang cocok dengan karakteristik fisiologi yang diperlukan. Dan
akhirnya Nona Y bisa berangsur - angsur pulih. Semua keluarganyapun
bahagia sekali karena bisa menatap kembali senyum bahagia dari puteri
tercintanya.

Selanjutnya pihak keluarga menghubungi rumah sakit tuk menanyakan siapa
orang yang telah mendonorkan organ pentingnya. Disamping ingin mengucapkan
terima kasih, tentu juga ingin membalas budi baik tersebut dengan uang
berapapun ia minta, termasuk kalau ia minta rumah dan mobil yang dijalan
Cipaganti itu. Pihak rumah sakit tidak memberi kabar, karena pihak
mendonor minta dirahasiakan identitasnya. Tidak setitikpun ia punya niat
mendonorkan karena ingin uang dan harta.

Sekitar 6 bulan setelah itu, anehnya bapaknya Y mengalami gejala yang
sama. Ia sakit menderita, dan akhirnya perlu donor organ seperti di atas.
Kembali ada seseorang yang mendonorkan dengan identitas disembunyikan.
Baginya hidup adalah ketulusan dan pengabdian, tanpa berharap pujian dan
sanjungan.
Dan akhirnya bapaknya Y itu sembuh juga. Waktu terus berjalan….

Suatu saat Y menengok temennya yang sakit di rumah sakit dengan gejala
penyakit yang hampir sama. Saat dokter sedang melakukan pemeriksaan, tiba
- tiba ada bunyi ledakan di bagian sudut rumah sakit…,dokter segera
bergegas dan meninggalkan berkas - berkas di meja pasien…, tanpa sengaja
berkas itu ada yang jatuh tertiup angin dan Y memungutnya. Di salah satu
berkas itu tertulis nama X yang pernah mendonorkan organ apa untuk siapa.
Berlinanglah air mata Y. Betapa orang yang selama ini sering ia hina,
bahkan pernah dihardik dan diusirnya adalah orang yang telah mengorbankan
hidupnya untuk kesehatan dan senyum bahagia keluarganya. Dan lebih
terperangah lagi ketika mengetahui bahwa bapaknyapun sempat disumbang
organ juga dari dirinya.
Puncak ke-ego-an dan kesombongan Y luruh, hancur…oleh budi baik dan
ketulusan X. Ia lari pulang ke rumah di tengah guyuran hujan, petir dan
halilintar saling bersahutan…,seolah memahami gejolak rasa salah atas
sikap Y terhadap X selama ini.

Ketika sampai di rumah Y lebih kaget lagi karena ibunya jatuh sakit dengan
gejala yang sama.

Lalu di sudut waktu yang lain, X ingin berjumpa yang terakhir kali dengan
Y. Hanya sekedar melihat wajahnya barang sesaat…,karena sebentar lagi
dia akan mendonorkan oragan yang lain buat temennya Y yang sedang
terbaring di rumah sakit. X ingin datang ke rumah Y bukan untuk
memberitahukan kebaikannya tetapi sekedar meminta maaf jika sikapnya
selama ini pernah membuatnya marah dan malu. Itu adalah rasa bersalah
terbesar bagi X, bahwa ia pernah membuat orang yang sangat disayanginya
meneteskan air mata malu.

Ketika sampai di gerbang rumah Y, di atas guyuran hujan yang sangat lebat,
curah hujan terbesar yang menimba bandung saat itu, langkah X terhenti
karena ragu - ragu tuk memijat bel. Lalu tiba - tiba ada mobil Mewah yang
akan masuk ke rumah itu juga. Ternyata mobil itu adalah mobil yang
ditumpangi oleh ayah Y. Ketika ayah Y melihat tampan X yang termanggu di
gerbang, kembali amarahnya memuncak dan mengusir X. Sempat X dipanggil ke
teras rumah hanya untuk dihardik…,dicaci maki, diludahi…bahkan
ditampar….,lelehan darah tampak keluar disudut bibir X.

Y melihat kejadian itu di jendela kamarnya. Y berlari dan berteriak…
Y merengkuh kaki X, dan berkata di tengah isak tangis :
Y : “Ayah…,hentikan ayah. Cukup sudah…,kenapa ayah berlaku kejam
seperti ini. Dia yang telah persembahkan senyum kembali keluarga ini.
Apa ayah tahu…,dialah yang telah menyumbangkan harta tak ternilai
untukku juga untuk ayah. dalam tubuhku dan tubuh ayah ada organ tubuhnya,
sementara kita membalasnya dengan hardikan, cacian, dan hinaan…, Dia
adalah bagian hidupku kini. Dan aku tak mau dipisahkan dengannya. Kini aku
baru mengerti, apa itu cinta dan KAPAN CINTA PANTAS DIKATAKAN….

Ayah : ” Nak..,apa benar yang kau katakan…? X apa benar kau yang telah
mengajarkan ketulusan pada keluarga kami? Sungguh batapa mulianya dirimu.
kau telah memberi yang sangat berharga tanpa harap tuk diketahui. Dan
ketahuilah nak, ketika ayah tahu kau sembuh karena ada yang memberikan
budi kebaikan, bahwa ayah bertekad untuk mengangkatnya jadi mantu….Apa
kau setuju..???”

Tiba - tiba hujan yang mengguyur terhenti, kabut gelap tersibak angin
menjadi cerah. Ternyata alam sangat memahami bahasa hati. Mereka semua
berangkulan…,derai air mata bahagia menjadi pemandangan terindah dalam
hidup mereka. dan akhirnya merekapun nikan dan berbahagia sekali.

Itulah akhir cinta bahagia yang diraih oleh kakak kelasku waktu di
kost-an. Ternyata untuk meraih cinta dan bahagia itu memang tidak mudah.
Harus ada unsur kegigihan, kesungguhan, pengorbanan, perhatian dan
ketulusan.
Semoga cerita ini memberi sisi manfaat bagi kehidupan, jika kita
melihatnya dari sisi yang positif untuk membangun jati diri yang tangguh
dan memiliki cita - cita serta dedikasi dan pengabdian.

19
Nov

Perjalanan Terakhir

“ Ini adalah perjalanan terakhirku”,itu katanya sewaktu dia mencium keningku saat pamit untuk pergi naik gunung lagi.
”Ada bule yang pengen liat panorama Merapi ” dia tetap masih saja bicara agar aku mau mengerti bahwa ini adalah tugas terakhirnya.
”Setelah ini aku janji aku akan mencari pekerjaan yang lebih baik,aku sudah bosan menjadi Rangger (guide untuk turis asing maupun local yang ingin naik gunung)”.
“Tapi aku ingin kamu ada saat aku ulang tahun nanti”,aku memberikan alasan agar dia mengurungkan niatnya untuk naik gunung lagi.
“Aku janji aku sudah tiba di Jakarta lagi malam sebelum hari ulang tahunmu”, dia masih tetap berkeras untuk pergi.

Jakarta,Sore hari saat hujan lebat mengguyur waktu menunjukan pukul 16:17.
Dari balik jendela kaca rumahku, aku menunggu kehadiran kamu disini. Malam sedikit lagi akan datang menyelimuti Kota ini. Pandangku tetap keujung jalan, berharap diujung jalan itu terbersit wajah letih kamu pulang dari Merapi. Sesekali kutengok jam didinding, waktu terasa lambat sekali berganti menjadi malam. Seperti Malam yang kamu janjikan padaku, akan kehadiranmu disini.
Waktu terus bergulir,detik demi detik terus berputar,aku masih disini menunggu kehadiranmu. Besok hari ulangtahunku, dan kamu telah tahu itu, tapi aku percaya kamu akan hadir disini. Seperti aku mempercayai hari esok akan datang menggantikan malam.
Aku mempercayaimu seperti engkau mengatakan “percaya padaku, aku akan datang”,saat engkau melambaikan tanganmu dipintu rumah ini.
Masih terlintas dibenakku langkah gontaimu seakan hendak tak ingin pergi, walau ini tugas terakhirmu. Mungkin beban Ransel di Pundakmu masih kalah berat dengan Langkah kakimu. Seuntai senyummu yang manis itupun tak bisa membohongi pandangku bahwa kamu memang segan tuk melangkah.

Jakarta, Gerimis 18:03
Malam hampir datang waktu yang kau janjikan akan tiba, mungkin kado yang paling berharga untukku saat ini hanyalah kehadiranmu,Senyum manismu yang mengembang, kuingin kamu hadir disini, saat ini tuk mengusir rasa sepiku. Kuingin memeluk erat tubuh tegap milikku tuk mengusir rasa gundah di hatiku, entah bagaimana setiap kupeluk erat tubuhmu ada rasa aman yang menjalar masuk ketubuh ini melalui setiap pori-pori tubuhku.
Masih kulempar pandangku ke ujung jalan berharap bayangmu perlahan menghampiriku lalu mengajakku melayang

Jakarta Gerimis 19.30
Ada Secarik kertas Ku Gores dengan Tinta kasih Sayang
Kumuntahkan dalam kegalauan dan kebimbangan hati
Menunggumu Disini seperti menunggu Langit Tak berujung
Hujan Rintik seperti malas tuk bergerak

Ada Senyummu Dibaling Mendung Awan Teruntai Indah menusuk kalbu dalam diam Langit menatap Hitam tersapu kabut gelap Andai aku disini ingin kuseka rinduku dengan dekapmu

Jakarta 21.25
Kusibak tirai jendela menatap jauh keujung gang, masih tak kutemukan segaris wajah letihmu bermandikan huja. Oh kasih aku rindu sekali, tak tahu mengapa rasanya malam ini aku ingin melihatmu, membelai wajah letihmu.
Terbersit dalam anganku saat kita pertama bertemu di terminal itu. Entah engkau datang dari mana, ah mungkin dari khayangan, atau dari Puncak Mentari, tempat asalmu, saat aku tak tahu pada siapa aku minta tolong kala 3 berandal itu mencoba mencopetku, engkau hadir dengan masih menggendong tas Ransel Besarmu, lalu mengangkatku seperti terbang ke angkasa
Tok..tok..tok….
Ah suara ketukan pintu, mengacak acak bayangan tentang kenangan masa laluku. Cepat ku beranjak menuju pintu depan. Dalam hati akhirnya engkau datang Bang Cepat kubuka Pintu dan………. Kutemukan……. Wajah………….. Pak RT dengan Senyum Jeleknya menyeringai kewajahku, Ah…. Mau ngapain sich malam malam gini pak RT ke sini
“ Ada bapak, Nik ? “ Masih Dengan wajah tanpa salahnya membuatku makin kesal
“ Ada Pak RT Tunggu sebentar yah “, dengan malas kulangkahkan kakiku menuju Ruang keluarga, dan kulihat bapak memang disana sedang nonton acara Favoritnya, Sepak Bola, Ah…Sepak bola apa sich yang bagusnya dari tontonan sepak bola, ucap hati kecilku, aku tak mengerti mengapa kaum lelaki itu suka sepak Bola, Bola satu diperebutkan 22 orang, apalagi yang aku sering baca dikoran tentang sepak bola Indonesia, selalu berkelahi, Bola satu kog diributkan Ribuan orang sampai pukul pukulan lagi. Begitu juga dengan Bang Arman, dia gemar sekali sepak bola hingga jika malam minggu, dia lebih sering pacaran dengan bapakku, dari pada dengan aku, sama sama penggila Bola. Sebenernya aku suka kesal sich tapi mau dibilang apa kalau aku cemberut. Paling–paling Bang Arman dibelain bapak dan Bunda, aku Cuma bisa ngedumel “ kalo lebih suka Bola, pacaran aja sama Bola…..” seperti biasa Bukan Bang Arman yang melunakanku paling bunda yang melunakanku.

Jakarta 23.15

Sudah Jam Sebelas malam lewat seperempat. 45 Menit lagi memasuki ulang tahunku, tapi belum kulihat bayanganmu di ujung jalan sana, hujan telah lama berhenti, lampupun sudah pada mati, Bapak sudah terlelap tidur di Karpet, Ah kebiasaan bapak kalau habis nonton bola pasti ketiduran, mungkin juga TV nya bunda yang padamkan.
“ Nik…. Nik….. aku mendengar suara seseorang di depan pintu. Tapi suaranya bukan suara Bang Arman, suara ini sepertinya lebih berat, siapa lagi nich, malam malam bertamu. Tapi kog dia tahu kalau aku belom tidur, padahal lampu sudah mati semua.
“ Nik … Nik… Aku Bang Arman….. “ suara itu lagi, Mengejutkan aku, “ Bang Arman….?? Dia datang”. Langsung aku lari ke pintu untuk membukakan kekasih hatiku yang telah lama kutunggu tunggu, setelah pintu terbuka memang kulihat sosok Bang Arman, didepanku, dia terlihat letih sekali. Peluh masih mengucur didahinya, pantas suaranya lain dia terlihat lusu sekali.
“ Bang Arman….” Tanpa kata-kata langsung kupeluk dia lekat sekali, sepertinya aku tak ingin melepaskannya walau sekejap, Aku ingin terus memeluk erat.
“ Aku kangen sekali Bang “ lekas lekas aku berkata saat aku tahu ia ingin melepaskan pelukku di dadanya.
“ Yah sudah aku kan sudah disini, aku selalu berusaha menepati janjiku sama kamu, malam ini aku janji aku akan hadir, Nik tapi aku tak bisa lama-lama, aku harus pergi lagi ”.
“ Baru datang mau pergi lagi…. Kamu sudah engga sayang sama aku Bang “ jawabku mendengar ia akan pergi lagi.
“ Bukan begitu sayang … Tapi, aku sudah di tunggu teman teman tuh, Aku hanya berusaha menepati janjiku sama kamu, aku harus balik lagi kesana“ menunjuk ke ujung gang.
memang kulihat teman teman bang Arman sedang menunggunya.
“ Kamu balik kesini sama teman teman kamu ?“ Tanya aku sambil menatap tak percaya.
“ Iya…. mereka tidak percaya kalau aku akan balik lagi kesana, mangkanya mereka ikut menemaniku.
“ Kenapa engga disuruh masuk sih !! “ jawab aku berusaha ke pintu pagar untuk memangil teman-temannya agar menungu dirumahku saja, tapi belum sampai aku menuju pintu pagar Bang Arman telah menarikku.
“ Tidak usah nik… kan aku bilang, aku tidak bisa lama-lama disini, waktu aku sudah habis nih “
“ Bang tega bangat sich kamu… aku kan masih kangen …… “ belum selesai ucapanku tahu-tahu bibirnya sudah ada dibibirku. Dingin sekali, tidak seperti biasanya kami ciuman, Hari ini sepertinya bibir ini kelu, tak berarti.
Belum selesai aku melumat bibirnya dia melepaskannya.
“ Aku pergi nik …. “ tanpa jawaban dariku dia sudah melangkah pergi….keluar pintu gerbang menuju teman-temanya yang masih menunggu di ujung gang.
“ Aku benci kamu bang Arman “ aku langsung masuk kerumah membanting pintu, lalu pergi kekamar tidurku, Tak kuperdulikan bantingan pintu tadi membangunkan tetangga tetanggaku.

Jakarta, 08.15 pagi

Kuhirup udara segar pagi untuk menghilangkan kesal didalam hati, Kuraih Teh manis hangat… buatan bunda…. Dan sepotong Roti…. Kulihat bapak sedang didepan TV menikmati Kopi pagi dan sepotong Pisang goreng kesukaanya sambil menonton berita pagi,” Ah dari dulu kalau hari Minggu, aktivitas bapak tidak pernah berubah, itu itu saja”. kudekati bapak ingin menggodanya seperti setiap pagi di Minggu yang cera. Tapi kulihat bapak seperti sedang serius nonton berita, tidak seperti biasanya, kalau nonton berita santai. “ Berita apa sich….” Lalu kudengar suara sang pembawa berita, mewartakan hilangnya pendaki gunung.
“ Subuh tadi Pagi Team SAR menemukan para pendaki di gunung Merapi yang telah menyemburkan Wedus Gembelnya sebanyak 3 kali… diperkirakan para pendaki ini… telah dua hari yang lalu tewas terkungkung saat Merapi pertama kali terlihat mengeluarkan gas beracunnya.
Nama Nama Mereka yang tewas adalah :
Arman Seorang mahasiswa Swasta Umur 25 tahun
Ardi Karyawan Umur 27 Tahun…..
………………………………
………………………………
Aku sudah tidak bisa mendengar lagi karena pikiranku kosong melompong.. hitam… gelap….. semua terasa hitam dalam antara sadar dan tak sadar aku masih sempat berpikir, “ Jika diperkirakan telah tewas 2 Hari yang lalu… jadi siapa yang hadir semalam “
Setelah itu aku sudah tidak bisa berfikir semua gelap….

Jakarta….. 5 Juni 2006

19
Nov

Biarkan aku menjadi diriku

Saat waktu berjalan tanpa dapat terulang kembali

Saat usia terus bertambah dan menuju kematian

 

Tanpa kusadar ku telah terhanyut dalam kehidupan yang fana

Dimana ku berpijak kulihat banyak kejanggalan

Kurasakan kehidupan ini semakin tak terarah

Dan menjauh dari hakekat  kehidupan dunia

 

Ku terdiam saat mereka hanyut dalam canda dan tawa

Ku merenung saat mereka bernyanyi dalam gemerlap dunia

 

Alam yang tenang membawa kerinduan

Inilah tempat dimana aku selalu merindukanMu

Betapa besar rahmatMu, betapa zolimnya diriku

Ingin ku menangis dalam kesendirianku

 

Biarkanlah aku berjalan dijalanku

Jangan kau bawa diriku ke jalan mereka

 

Saat malam tiba ketika sebagian terlelap dalam impian

Dijalan setapak ini ku berjalan dalam keheningan

Membawa harapan bahwa esok pagi yang cerah

Karena ingin ku lihat indahnya dunia dan mentari pagi

 

Ingin ku berteriak tapi untuk apa ku berteriak

Karena aku hanyalah manusia kecil yang tak berdaya

 

Terimakasih telah Engkau ciptakan Alam yang indah ini

Tempat dimana ku bisa bermain, tertawa, termenung dan terdiam.

Hangatnya persahabatan dalam kedamaian hati

Yang membuatku selalu merindukannya dan merindukanMu

 

 

dEdy 19nov08

22
Oct

Cahaya Bulan

Berlahan sangat pelan hingga terang kan menjelang

Cahaya kota kelam mesra menyambut sang petang

Disini ku berdiskusi dengan alam yang lirih

Kenapa matahari terbit menghangatkan bumi

 

Aku orang malam yang membicarakan terang

Aku orang terang yang menentang kemenangan oleh pedang

 

Berlahan sangat pelan hingga terang kan menjelang

Cahaya nyali besar mencuat runtuhkan bayang

Disini ku berdiskusi dengan alam yang lirih

Kenapa indah pelangi tak berujung sampai di bumi

 

Aku orang malam yang membicarakan terang

Aku orang terang yang menentang kemenangan oleh pedang

 

Cahaya bulan menusukku dengan ribuan pertanyaan

Yang takkan pernah tahu dimana jawaban itu

Bagai letusan berapi membangunkanku dari mimpi

Sudah waktunya berdiri mencari jawaban kegelisahan hati

 

(sountracknya gie)

22
Oct

Dalam Dekap-Nya

Sahabat..
Kau memberiku beribu simbol tentangmu
…kadang ku tak tahu bagaimana mengungkapkan kekagumanku atasmu
Kau terlalu baik untukku
Kau terlalu sempurna di mataku
…meskipun memang  pastilah kau bukan manusia yang sempurna
…karena setiap manusia pasti ada kekurangannya
Tapi sekedar ilustrasi atas sejuta kebaikanmuDan setelah kau datang…
Janganlah pergi…apalagi menyepi dan tak kembali
Sesungguhnya kau pun tahu…
Betapa berartinya kau untukku
Terima kasih atas seluruh budi baikmu
Terima kasih atas setiap jengkal perhatianmu
Terima kasih atas semua kebaikan dan pengorbananmu

Aku terdiam…
…dalam genggaman penjara hampa penuh kehilangan
Ku coba rajut kembali lembar demi lembar anyaman asa yang berserakan
Ku tata kembali seluruh serpihan jiwa yang pernah tercabik
Dan alhamdulillah…
…dalam penyusunan pranata kehidupan yang tercecer
…kutemukan asma-Nya
…kutemukan Dia Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
Dialah yang Maha Segalanya
…yang tak pernah meninggalkan kita barang sesaatpun
…sehingga setiap ucapan dan perbuatan kita selalu sepengetahuan-Nya
…tidak ada setitikpun perbuatan kita yang tidak diketahui-Nya
…tidak ada se-huruf pun ucapan kita yang tidak didengar-Nya

Dan aku pun tersungkur di depan mihrab-Nya
Air mataku berlinang membasahi karpet kesadrahanku
Rasa syukur atas nikmat iman yang sangat menghujam
…dan tergores sebuah tekad, agar senantiasa “Dalam Dekap-Nya”

Ya Rabb…
Izinkan ku berbagi kebahagian ini bersama sahabatku
…karena merekapun adalah bagian dari jalan hidupku
Sayangilah sahabatku…
…sebagaimana kau curahkan kasih sayang pada hamba-hamba-Mu yang sholeh
Berilah petunjuk…
…sebagaimana kau berikan petunjuk pada mereka yang Kau ridloi
Aamiin…